Sayur Lodeh dan Gerejaku

Renungan setelah Renungan:)

Buat ibu2 apalagi yang doyan masak tentu tahu bahan-bahan dan bumbu-bumbu sayur lodeh bukan?
Ada santan kelapa, ada kacang panjang, ada terong, ada tahu tempe bagi yang doyan, boleh ditambah daging bagi yang berkenan, kadang dimasukkan daun mlinjo atau mlinjo itu sendiri.
Biar sedap, dikasih kemiri, cabe-cabean (mohon jangan salah paham), garam, gula, atau yang penggemar sensasi micin, bisa dibubuhkan sedikit kemenyan, eh..penyedap, seperti royko, masako, miyako,

Nah, kalau mau jadi sayur lodeh yang nikmat dan berkasiat (untuk perut lapar), bisakah bahan-bahan itu dimasukkan utuh-utuh? Misalnya kelapa satu butir gelondongan tanpa diparut dan diperas, kan tidak? Atau tahu asal cemplung? Atau terongnya mau dimasukkan bulat-bulat? Tentu tidak ya? Semuanya harus dipotong-potong, bahkan bumbunya dihaluskan. Ada yang perlu direbus secara terpisah dulu (mungkin). Semuanya proses berbeda. Biar masakan jadi maknyus.

Kayaknya ini sama dengan cara kita bertumbuh dalam gereja. Tidak semua orang akan mengalami proses yang sama dalam pertumbuhannya menjadi masakan yang sedap di “lidah”-Nya Tuhan.
Nah, kadang ada jemaat berkata, “Aku mau melayani sebagai diriku sendiri, aku begini ya begini, kalau nggak mau terima gaya saya yang begini ya terserah!”

Apakah itu benar? Sepertinya rada gondok ya kalau dengar ada yang bilang gitu? Bayangkan kalau semua anggota gereja ingin “menceburkan diri” secara utuh dan “gelondongan” ke dalam gereja. Kelapa yang bulat dimasukkan bulat, kacang panjang yang panjang bakal menjuntai di seluruh penjuru panci, entahlah..sayur macam apa itu..

Sebab satu bahan harus menyesuaikan diri dengan “bahan” yang lain, mungkin yang satu harus rela direbus terlebih dahulu karena  saking alotnya (hehehe peace..), yang satu harus rela di potong dan yang satu diloloskan begitu saja.

 Kadang, kita sebagai bahan masakan harus rela saling mengalah, kalau rasanya kita hanya diperlukan sebagai pemanis atau “pengasin” ya memang itulah kontribusi yang Tuhan minta, kalau kita tetap ngeyel ingin eksis, bisa-bisa gereja kita “keasinan”. Kalau mungkin Anda adalah “cabe”, mungkin ketegasan atau “perkataan pedas” kita memang dibutuhkan untuk membangun dan menegur, tapi kalau kebanyakan, bisa2 nanti sayur lodeh itu jadi “rica2”.
Nah perkara lain, kadang ada juga yang mengeluh begini, “Ah, gue beres2 sendiri, jemaat lain yang nikmati,”

Sekretaris gereja,” ah gue capek2 sendiri gak bisa nikmati ibadah, tiap hari sibuk sama bulletin”
Pemusik, “ah tiap hari gue latihan melulu, gak pernah nyanyi dan menikmati ibadah,”
Kita hanya memikirkan rasa yang dinikmati lidah kita sendiri, kita lupa, bahwa kita tidak bertugas sebagai penikmat, tapi “bahan” , yang menikmati ibadah adalah Tuhan. Ngelunjak kadang-kadang…
Padahal saat kita berlelah2 atau nggak sempat “nyanyi” (mungkin), kita tidak sadar bahwa nama Tuhan telah dipermuliakan melalui kita.

Tapi di tengah para pelayan yang mempersembahkan talenta2nya, ada saja kita yang merasa nyaman menjadi bahan yang “mati rasa” wah..asli..di gereja cuma hening sejuta bintang. Kita asyik menikmati pujian-pujian, khotbah,dan alunan musik, tanpa melakukan apa-apa…tapi ironisnya kita mengangkat tangan dan bilang “Oh Tuhan aku persembahkan diriku sebagai persembahan yang hidup!!”

Helooo..hidup dari mana, kerasa aja enggak..

Bukan cuma diam, tapi kadang mengkritik, “Ah ini pujian garing amat, gak ada rohnya”,
“Ah ini lagu terlalu hura2 kaya lagi pesta kelulusan”, 
“Ah khotbahnya gak semangat,”  
"ah begini..ah begitu…ah sudahlah pindah aja (ke galaksi yang lain hehe..).

Let's recognize our role…

Bahan apakah kita ini? harus digimanain dulukah kita? Sayur apakah gereja kita ini? Apakah kita benar2 terpanggil menjadi bahan di suatu gereja A? jangan-jangan kita ini bahan rendang yang salah masuk ke sayur asem, nggak suitable…alias maksa.

Siapkah kita dipotong2 atau direbus duluan, demi masakan nikmat dan harum bagi Tuhan? Rela dibentuk, bukan berarti kehilangan jati diri lo..Anda tetap kacang panjang meski sudah dipotong dan jadi pendek (ada joke begitu ceunah)…

Ini perenungan saya setelah mendengar renungan sore dari ilustrasi sama. Tapi Anda boleh tak sama :)



Komentar

  1. ngakak yang bahan rendang salah masuk ke sayur asem 😂😂

    BalasHapus
  2. Jemaat bisa masuk salah gereja dong? (Bahan rendang masuk ke sayur lodeh?

    BalasHapus
  3. Jemaat bisa masuk salah gereja dong? (Bahan rendang masuk ke sayur lodeh?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Journey

Cerpen

Puisi Untuk Rajaku