Cerpen
Maafkan
Aku, Nurdin
Sabtu senja di
bulan Oktober 1990, desa-desa di pinggiran
kota Madiun masih sunyi. Malam peringatan tahun baru Islam atau 1 Muharam yang
biasa disebut 1 Suro dalam penanggalan Jawa sepertinya tidak akan semeriah
tahun lalu. Penduduk desa ini hanya mengadakan acara selamatan secara
bergiliran. Hingar bingar pedagang Pasar Besar tak menular ke seluruh kota dan
kabupaten. Di satu sisi kenampakan bumi Kartoharjo, terdengar permufakatan
sekelompok pemuda desa yang rindu menghibur diri dengan angin kota lain.
“Bu, aku ke Solo ya, bareng Nurdin dan Wahyu, boleh?”
Rahman merengek meminta izin ibunya. “Ibu ndak
punya uang, Le. Mau ngapain to?”
“Mau nonton Kiraban, Bu. Kiraban Grebeg Suro. Kata Nurdin
kalau di Solo itu rame bukan main.”
“Tapi ibu ndak punya uang, Le. Mau ke Solo naik apa?”
“Naik kereta
bu, yang penting ibu buatkan bekalnya saja. Urusan naik kereta dan bagaimana di
sana, aku bisa atur bu.”
Sebenarnya ibunya tak rela, tapi ia sadar
sejak kecil sampai lulus STM Rahman tak pernah
diajak melancong. Hiburannya hanya bercanda dengan sapi dan kerbau, itu pun
kerbau tetangga. Kalau tidak ketemu kerbau paling-paling anak laki-lakinya itu
hanya membantu ayahnya menjemur gabah di musim panen waktu liburan. Akhirnya Bu
Marti luluh, direlakannya putranya itu pergi. Tak terlalu jauh juga, masih di
pulau Jawa, pikirnya.
“Besok kita
berangkat dari Stasiun Madiun jam lima pagi, ya!”
“Janjian
dimana?”
“Di rumah
Wahyu saja. Kita bisa numpang mobil pick-up pakdenya yang mau ke Pasar Besar.”
Malam ini,
tiga pemuda penasaran itu diserbu gelisah tiada ampun. Mereka tak pernah ke
luar kota, tak pernah mencicipi bau keringat penumpang bus besar antar provinsi, tak
pernah melaju kilat bersama gagahnya kereta api. Satu-satunya angkutan kota
termewah yang pernah mereka tumpangi
hanyalah bus antar kota jurusan Surabaya-Solo-Yogya. Tapi mereka tak pernah
memulai perjalanan dari Surabaya dan tak pernah berakhir di Yogya, hanya
berkutat di Madiun, Caruban, paling jauh Telaga Sarangan waktu ada kegiatan
kemah Pramuka. Namun saat ini, biarkanlah mereka sejenak bermimpi dan resah,
mereka tidak akan pergi sebagai TKI ilegal, hanya penumpang ilegal saja yang
kursinya berada di atap kereta api.
Mobil pick-up Pakde
Parni sudah menunggu di bawah pohon Rambutan. Mobil itu melaju kencang di subuh
Jalan Raya Basuki Rahmat. Matahari sepertinya baru saja mengintip dari
Ponorogo. Ketiga pemuda labil itu tampak terintimidasi oleh semangat mereka
sendiri.
“Ini baru
namanya merantau.” Kata Wahyu ringan.
“Kita cuma mau
lihat Kiraban, Yu. Ndak usah
berlebihan.”
Tak ada di
antara mereka yang peduli kekhawatiran orang tua di kampung Kartoharjo, khususnya
ibu-ibu yang walaupun sedang asyik memasak jajanan apem kenduri, tapi sebenarnya
dilanda gundah gulana, bagaimana tidak, anak-anaknya pergi ke luar kota tapi
naik atap kereta. Tapi, siapa peduli? Saat ini yang penting adalah bagaimana
bisa bertahan di atap kereta selama tiga jam perjalanan dan bagaimana menahan
sukacita saat nanti berhasil menginjakkan kaki di bumi Solo Balapan. Semoga
mereka tidak gemetar.
“Kalau jadi
penumpang bonek begini, awasi kepalamu. Rajin-rajin lihat kanan-kiri, atas,
depan dan belakang. Sambaran bisa datang dari segala arah, hehehe...” Nurdin
memeringatkan
“Memangnya
siapa yang mau menyambar kepala kosong seperti kepala kita? Hahaha..”
Mereka
tidur-tiduran menatap langit, tertawa, bercanda. Burung-burung Halcyon cyanoventris berlalu-lalang
berayun-ayun di kabel listrik, terkekeh-kekeh digelitik angin sawah. Semuanya
indah, semuanya tertawa. Matahari pagi sampai siang tak terasa menyengat sama
sekali, sinar panasnya lebih dirasa sebagai pelukan jagad raya yang begitu
hangat.
Kota
Surakarta, hari ini mereka menulis kan nama mereka di salah satu sudut pohon
taman kota Surakarta. Percayalah, lima tahun lagi pohon itu sudah di tebang dan
mereka akan dilupakan begitu saja. Tak kenal siapapun, tak tahu jalan manapun. Rahman
tiba-tiba ingat sabda Pak Kusmanto guru sejarah SD mereka: "Kalau tersesat di
Yogyakarta atau Solo, cari lah Keraton, di sana pasti banyak roh Sultan yang
membimbingmu menuju jalan-jalan kota yang aman." Oleh karena dalil Pak Kus itu
lah, Rahman menuntun teman-temannya berdasarkan firasat ke arah pusat keramaian
Keraton Surakarta, tentunya dengan ongkos patungan menunggang becak butut. Ya,
atas berkat rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan
luhur, tibalah mereka di pusat kota itu. Mereka terkagum-kagum menyaksikan kemegahan
Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Sekarang mereka menyaksikan sendiri
bangunan sejarah yang dulu hanya bisa dilihat lewat perantaraan buku sejarah.
Kini mereka tepat berada di hadirat keangkuhan maha karya Sunan Paku Buwono II
yang legendaris itu.
Firasat Rahman
benar. Semakin malam Keraton semakin ramai didatangi penduduk sekitar.
Manusia-manusia Jawa yang kegirangan menyambut malam Satu Suro. Tidak lain dan
tidak bukan Kiraban memang diadakan di Keraton eksotis itu. Mereka berdatangan
dari Solo, Boyolali, Sragen, Karanganyar. Rombongan kiraban dipandu oleh
delapan kerbau bule yang dipercaya merupakan turunan Kyai Slamet.
Mamalia-malaia sakral itu berperan sebagai cucuking
lampah . Mereka tiba di depan kori kamandungan atau depan keraton sekitar
pukul 23.55 WIB. Kerbau-kerbau itu digiring para pawang untuk makan pakan dan
sesajian yang telah disiapkan oleh abdi dalem. Bagi tiga pemuda desa pinggiran
itu, pemandangan yang demikian adalah sangat memukau adanya. Sayangnya mereka
tak punya kamera. Wahyu sebenarnya sempat punya kamera, tapi filmnya rusak saat
dipinjam adiknya. Anugerah terindah bagi mereka di awal tahun Jawa ini adalah,
mereka bisa menyaksikan prosesi sakral terpopuler di tanggal kultus ini dari
dekat. Setidaknya memori mereka cukup longgar untuk merekam peristiwa
bersejarah itu. Demikianlah mereka menyambut malam tahun baru dengan gegap
gempita bersama ratusan orang yang tak mereka kenal.
“Man,
keretanya berangkat jam berapa sih?”
Nurdin setengah menggerutu. Wajahnya sudah pucat menahan dehidrasi. Berbeda
dengan Wahyu, walaupun ia juga lemas, tapi tidak bisa disebut pucat. Kulitnya
sudah melepuh seperti rebusan aspal. Kulit Wahyu memang memiliki warna dasar gelap, tapi tak sepekat saat itu. Rahman, berdiri lunglai, rambutnya yang
sedikit gondrong sudah kusut dan lepek ditimpa topi kusam. Sungguh aromanya
seperti jerami yang sakit diserang jamur.
Sore menjelang
maghrib kereta jurusan Yogyakarta – Madiun melaju pasti. Semakin gelap semakin
larut. Ketiga Masketir ini tak sadar, bahwa malaikat sedang mempersiapkan mereka
menghadapi rencana Tuhan yang besar sesaat lagi. Segala firasat pupus dijajah
rasa lelah dan kepuasan. Wahyu segera tertidur lelap di atap kereta, dengkurnya
kini kalah saing dengan getaran kereta api ekonomi bersahaja itu. Rahman dan
Nurdin bercakap-cakap sambil menatap langit, mereka tak bisa tidur karena tak
ingin melewatkan malam di puncak kereta. Kapan lagi suasana seperti ini
terulang lagi?
“Man, besok
pengumuman kelulusan, apakah kamu punya rencana merantau ke kota?”
“Tidak tahu,
Din. Tergantung bapak.” Jawab Rahman sembari menatap langit.
“Maafkan aku
ya, Man.”
“Buat apa?”
Rahman menoleh.
“Aku sering
mengajarimu hal-hal yang tidak baik. Aku mengajarimu merokok, minum tuak, bolos
sekolah..”
“Ah, yang
penting ‘kan aku ndak ketagihan.
Lagipula aku tidak melakukan itu semua sekarang. Akhirnya kamu sadar juga kalau
hal-hal itu tidak baik, hahahaha....”
Mereka berdua
tertawa lepas merasa semakin akrab. Sekali lagi Rahman menengadah ke langit
menyaksikan bulan sabit yang elok rupawan. Nurdin pun menengadah dan
menyaksikan pemandangan yang sama. Sepi. Kereta terus melaju di Jalan Masaran
dan mendekati terowongan. Pada bagian depan, tepatnya di atas mulut dinding
terowongan itu terbentang pipa besi
panjang berisi air yang biasa digunakan untuk sarana pengairan sawah-sawah sekitar. Pipa itu
berdiameter sekitar 40 cm melintang menghubungkan dinding terowongan. Jika
kereta lewat, atap kereta hanya berjarak 50 cm dari pipa tersebut, dan ini
tanda bahaya bagi para penumpang ilegal yang nangkring di atap kereta, apalagi yang tidak berpengalaman dalam
bidangnya
Tiba-tiba angin
berhembus kencang dari belakang menjatuhkan topi Rahman tepat saat kereta
meluncur memasuki terowongan gelap. Rahman spontan menunduk memungut topinya. Tapi,
malang tak biasa ditolak. Naas bagi Nurdin. Ia tak melihat pipa besi itu dari
jauh karena gelapnya malam, sebenarnya dua-duanya tak melihat. Tentu saja ia
tak sempat menghindar tak sempat menunduk karena tak ada topi yang jatuh. Kepala
Nurdin terbentur cukup keras. Ketika Rahman tersadar temannya terbentur pipa
besi, ia panik bukan kepalang. Diangkatnya kepala Nurdin yang mengaduh kesakitan
ke pangkuannya.
“Aduh,
kepalaku sakit, Man.” Rintih Nurdin berulang-ulang.
Rahman
setengah mati menjerit ketakutan saat menyadari celana dan tangannya bersimbah
darah Nurdin. Jeritan Rahman beradu dengan tangis dan sesak. Bulan sabit tak
peduli, masinis tak peduli, bahkan Wahyu pun tak terusik sama sekali, apalagi
penumpang-penumpang yang duduk di dalam kereta dengan hangatnya. Mereka pasti
tak mau tahu.
Pukul 19.00 waktu Indonesia Barat wilayah
Sragen. Rahman dan Wahyu memutuskan turun di Stasiun Paron dan membopong
sahabat mereka ke rumah sakit Sragen terdekat. Tubuh Rahman dan Wahyu antara
lemas dan terguncang. Mereka gugup saat melihat temannya tak sadarkan diri.
Rahman memutuskan pulang ke Madiun dengan bus untuk memberi kabar pada keluarga
di desa. Dalam perjalanan pulang ke Madiun, Rahman terus berdoa memohon ampun
atas kelancangannya menjadi penumpang ilegal. Ia merasa sangat berdosa. Ternyata
kabar dari aparat kepolisian kota Sragen lebih cepat sampai ke desa Rahman.
Aparat bersama pihak rumah sakit mencari rekan dari Nurdin yang tak lain adalah
Rahman. Mereka hanya memberi tahu kalau Nurdin sudah meninggal dan berharap
keluarga segera menjemput jenazahnya.
“Maafkan aku,
Bu.” Rahman terisak-isak memecah kesunyian malam.
“Kenapa harus anakku yang mati?” Bu Parni menjerit
pedih. Ratapnya memilukan, seluruh tetangga kanan kiri berhamburan menyaksikan
drama menyakitkan di awal Muharam.
“Lihat temanmu
itu! Dia pulang sebagai jenazah!” Pak Kamto, ayah Rahman sendiri
mengintimidasinya dengan sindiran menyakitkan.
Habis semua.
Kenapa aku tidak ikut terbentur pipa besi? Kenapa topiku jatuh waktu itu?
Kenapa harus aku yang masih hidup? Rahman hampir gila. Hatinya hancur digilas
rasa bersalah tiada ampun. Entah apa yang Tuhan inginkan, mengapa Ia lebih
memilih menjatuhkan topi Rahman dan menyelamatkannya? Rahman mengurung diri dan
tak mau makan. Berbulan-bulan harinya habis seperti itu. Hanya tragedi malam
itu lah yang selalu berputar di kepalanya. Seandainya ia bisa menebus semua
rasa bersalahnya.
Waktu berlalu,
semua orang telah melupakannya. Ayah dan Ibu Nurdin sudah mengikhlaskannya.
Hanya Rahman, yang masih meringkuk dalam pergulatan penyesalan yang tak mau
undur dari benaknya. Dia bersembunyi di bawah kasur, mengurung diri di dalam lemari,
seperti melarikan diri dari tuduhan penyesalan yang tiada ampun.
“Ikutlah aku
ke Jakarta, Dik!” pinta Ririn, kakak Rahman. Mari kita pergi melupakan Nurdin.
Komentar
Posting Komentar