Cerpen
Maafkan Aku, Nurdin Sabtu senja di bulan Oktober 1990, desa-desa di pinggiran kota Madiun masih sunyi. Malam peringatan tahun baru Islam atau 1 Muharam yang biasa disebut 1 Suro dalam penanggalan Jawa sepertinya tidak akan semeriah tahun lalu. Penduduk desa ini hanya mengadakan acara selamatan secara bergiliran. Hingar bingar pedagang Pasar Besar tak menular ke seluruh kota dan kabupaten. Di satu sisi kenampakan bumi Kartoharjo, terdengar permufakatan sekelompok pemuda desa yang rindu menghibur diri dengan angin kota lain. “Bu, aku ke Solo ya, bareng Nurdin dan Wahyu, boleh?” Rahman merengek meminta izin ibunya. “Ibu ndak punya uang, Le. Mau ngapain to ?” “Mau nonton Kiraban, Bu. Kiraban Grebeg Suro. Kata Nurdin kalau di Solo itu rame bukan main.” “Tapi ibu ndak punya uan...